Iklan Billboard 970x250

Menilai Visi Misi Paslon di Pilpres 2019

Iklan 728x90

Menilai Visi Misi Paslon di Pilpres 2019


Visi Misi Paslon Capres 2019


Kalau kita baca visi misi kedua paslon sekilas kelihatannya tidak ada beda. Hanya retorika nya yang beda. Kedua paslon punya visi tentang nasionalisme. Kemudian dijabarkan dengan misi yang orientasinya lebih kepada pengembangan sumber daya manusia. Lantas apakah ada perbedaannya ? menurut saya perbedaan itu ada pada persepsi terhadap SDM. Kubu Jokowi memandang sumber daya manusia itu lebih kepada manusia Indonesia. Bukan golongan atau masyarakat. Hal ini terbalik dengan Prabowo yang lebih kepada masyarakat Indonesia. Perbedaan walau tidak nampak jelas namun pengertiannya sangat jauh sekali perbedaannya. Apa perbedaan manusia dengan masyarakat ? Kita akan tinjau dari sisi persepsi. Atau sudut pandang yang melatar belakangi sikap orang. Kalau persepsi anda tentang manusia, itu artinya Anda tidak melihat latar belakang budaya, agama atau daerah. Bagi anda semua budaya dan agama sama sama punya nilai positip. Punya nilai nilai sendiri untuk membuat masyarakat lebih baik. Jadi tidak perlu negara masuk terlalu jauh mencampuri masalah society. Tetapi bukankah kemajuan masyarakat tergantung dengan agama dan budayanya ? karenanya perlu social engineering seperti di China. Tidak begitu. Indonesia bukan negara totaliter dimana semua orang dipaksa menjadi seperti negara mau. Indonesia negara demokrasi yang bertumpu kepada persatuan atas dasar keberagaman. Maju atau mundurnya bangsa bukan ditentukan oleh agama atau budaya tetapi oleh mental pribadi orang perorang.


Nah bagaimana menjadikan budaya dan agama sebagai suatu kekuatan? ya mental manusia itu sendiri yang harus dijaga agar mereka tetap berjalan atas dasar moral agama dan budaya. Gimana menjaganya ?  ya lewat kebijakan dibidang ekonomi, sosial dan hukum. Di bidang ekonomi dan sosial negara harus hadir memberikan keadilan. Tidak melalui proteksi dan subsidi konsumsi ala sosialis tetapi lewat kemandirian terprogram. Karenanya harus ada pembangunan hukum yang menjamin program kemandirian itu agar persaingan berubah menjadi gotong royong. Terjadinya sinergi dan kolaborasi antara Pemerintah pusat dengan Daerah. Antar pengusaha dari berbagai kelas. Antar golongan dari berbagai lapisan. Kalau itu terjadi maka kualitas manusia indonesia akan menjadi  sumber kekuatan pembangunan. Untuk lahirnya peradaban yang berkepribadian Indonesia. Dimana agama diimani dan budaya diterapkan. Sementara kubu Prabowo tidak memandang manusia sebagai pribadi tetapi society atau masyarakat. Ini ciri khas idiologi totaliter.  Menjadikan manusia sebagai object pelangkap penderita. Ada pemisahan yang jelas antara rakyat dan penguasa. Tidak ada equality. Makanya Prabowo dalam misinya khusus menyinggung soal pembangunan militer.  Walau disebutkan kemandirian TNI namun sesungguhnya dia menjadikan militer sebagai basis kekuatan membangun peradaban. Ini Soehartoisme. Kita semua pernah merasakannya. Terutama orang yang berusia diatas 40 tahun. Jadi benar apa yang dikatakan Politisi PDIP Ardian Natipulu, Pemilu sekarang perang antara kelompok reformis dan status quo. Antara kelompok demokrasi dengan klik Soeharto.


Silahkan anda pelajari infographis dibawah ini. Silahkan nilai apakah narasi saya diatas salah atau tidak.



Baca Juga
SHARE
Subscribe to get free updates

Related Posts

Post a Comment

Iklan Tengah Post